DIKEBUN ADA ILMU DAN KETERAMPILAN


DIKEBUN ADA ILMU DAN KETERAMPILAN
Oleh : Enny Nurcahyawati

Anak-anak usia dini paling gemar mencoba berbagai hal. Biasanya kegiatan mencoba berbagai hal ini akan membuat anak menjadi lebih aktif dan bisa belajar banyak hal. Salah satu aktivitas yang membuat anak usia dini aktif adalah kegiatan berkebun. Selain menyenangkan, aktivitas ini juga memiliki banyak manfaat.  Menurut Suyadi [i]Anak usia dini yaitu usia 0-6 tahun merupakan masa emas (the golden age). Hal tersebut ditunjukkan dengan potensi dan kecerdasan yang telah mulai terbentuk. Oleh karena itu, pendidikan harus dilakukan sejak dini untuk menciptakan generasi yang berkualitas.
            Kegiatan berkebun, selama ini dikenal hanya untuk orang dewasa saja seperti petani sayur atau upaya mengisi lahan kosong dihalaman bahkan kegiatan berkebun hanya sebagai kegiatan sampingan saja. Namun, berkebun selain memiliki fungsi pencegahan pemanasan global, ternyata juga membawa manfaat terhadap kesehatan anak-anak. Aktivitas fisik yang dilakukan selama berkebun membantu anak-anak dalam mengoordinasikan kemampuan gerak mereka.

  

Gambar 1 : Kegiatan berkebun menanam bayam merah dan menanam padi
TK Arrayhan slipi Jakarta Barat

            Kegiatan berkebun bagi anak usia dini dapat mengembangkan berbagai potensi anak secara optimal, sesuai kemampuan bawaannya; bahkan kedepan sejalan dengan perkembangan IPTEK dan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan perkembangan otak (Brainwere) manusia, dimungkinkan pendidikan mampu mengembangkan pribadi anak melampaui batas potensi bawaannya. Potensi meliputi ranah kognitif, kreativitas, bahasa, jasmani (motorik kasar dan halus), spiritual, sosial dan emosional. Mulyasa (2012)[ii]
            Pada aktivitas berkebun bagi anak-anak usia dini yang diperkenalkan sejak mereka kecil sangat berguna untuk menjaga kestabilan tubuh. Karena dengan melakukan aktivitas ini, maka anak-anak akan banyak bergerak sehingga motorik kasarnya dapat merasakan perbedaan ketika memegang tanah dengan peralatan kebun lainnya, terutama saat membersihkan kebun, mengolah tanah, menyirami, menyiangi, mencampur dedaunan, menabur bibit dan aktivitas lainnya. Perasaan yang timbul akibat kegiatan berkebun adalah memberikan pengalaman baru yang menyenangkan bagi anak-anak. Dampak terbesarnya adalah tubuh kecil mereka pun akan sehat karena berkeringat. Bahkan jauh lebih baik lagi bila aktivitas berkebun ini dilakukan di pagi hari.

  

Gambar 2 : Persiapan berkebun / TK Asmaul Husna Rancaekek

Kegiatan berkebun memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi dan mengamati lingkungan sekitar serta diberi kebebasan untuk mengembangkan imajinasi dan dijadikan sarana untuk belajar sambil bermain (Sutrisno & Harjono, 2005)[iii]. Sedangkan menurut Herdianing (2014), hal itu didukung dengan penelitian bahwa kegiatan berkebun dapat dijadikan sarana untuk bermain yang dapat mengembangkan kecerdasan naturalistik serta memupuk rasa tanggung jawab dan melatih kesabaran anak.[iv]

   

Gambar 3 : Menunjukkan hasil kebun / TK Asmaul Husna Rancaekek dan BIMBA AIUEO

            Anak-anak usia dini, adalah generasi penerus bangsa, pemberdayaan halaman rumah atau sekolah tempat belajar mereka untuk berkebun perlu diperkenalkan sejak dini agar upaya konservasi lingkungan dapat terus berlanjut di masa mendatang. Bagi anak-anak, terutama anak usia dini, yang saat ini cenderung dikepung oleh media hiburan (televisi, komputer, dan handphone) yang dampaknya tidak langsung. Namun, berkebun dapat menjadi salah satu alternatif media bermain sekaligus pembelajaran dengan metode Problem Solving. Dengan bercocok tanam, anak dapat belajar untuk menghargai sebuah proses. Masih banyak lagi pembelajaran kognitif, afektif, dan psikomotorik yang bisa didapat dengan beraktivitas di halaman. Tentu saja interaksi sosial pun dapat terwujud dengan melakukan macam-macam kegiatan berkebun bersama teman-temannya.
Gambar 4: Memberikan penjelasan cara menanam / TK Kartini Surabaya
Gambar 5: Kegiatan menanam bunga / TK Santa Maria Slipi Jakarta Barat
            Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik dan berada pada masa proses perubahan berupa pertumbuhan, perkembangan, pematangan dan penyempurnaan, baik pada aspek jasmani maupun rohaninya yang berlangsung seumur hidup, bertahap dan berkesinambungan.[v]
            Menurut Hedianing (2014), kegiatan berkebun merupakan kegiatan yang menyenangkan, dengan berkebun secara tidak langsung diajarkan mengenai ilmu tentang siklus hidup tanaman serta mendapat pengalaman tentang keajaiban hidup benih. Sejalan dengan hal itu Sutrisno & Harjono (2005) juga berpendapat bahwa kegiatan berkebun adalah kegiatan menanam tumbuhan yang sekaligus dapat secara langsung memperoleh pengetahuan tentang kehidupan tumbuhan dan keterampilan psikomotorik dalam menanam tumbuhan. Tanggung jawab dalam merawat tanaman, menyiram tanaman setiap hari, serta mengamati perkembangan tanaman juga merupakan bagian dari kegiatan berkebun.
            Sementara menurut Beetlestone (2012)[vi] menyatakan bahwa berkebun memiliki manfaat yang sangat nyata bagi perkembangan fisik, yang pada gilirannya akan mempengaruhi perkembangan kreatif. Saat berkebun anak-anak akan memiliki banyak ruang untuk bergerak dan melatih tubuh mereka dengan gerakan-gerakan skala besar seperti menggali, menggaruk, berlari dan membungkuk.

Gambar terkait https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsm6jRdGXYZL7GnZz71lGuDLCfyqRmTZYjaUy2k-lAc5isBzlTwwD1jjOsdceOSTj4RozyV6EeGgkMI2pRpIeG9ErMQ1AueAieTY5avWHMaQQ_65cBRHoELBukkQ8IQG7GfwGzOjuJVbw/s1600/IMG_0164.JPG

Gambar 6: Anak-anak sedang menanam. /RUMAH PINTAR 'PIJOENGAN' JOGJA
Sedangkan Menurut Lismadiana (2013)[vii], perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan individu secara keseluruhan. Pada dasarnya perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak, sehingga setiap gerakan sesederhana apapun merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan system dalam tubuh yang di kontrol oleh otak. Perkembangan fisik motorik sangatlah penting untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari yang membutuhkan gerakan tangan, kaki bahwa seluruh anggota badan. Oleh karena itu fisik motorik dapat di kembangkan mulai sejak usia dini.
Kegiatan berkebun selain menyenangkan dan menjadi pengalaman yang menarik bagi anak-anak usia dini. Berkebun juga menjadi salah satu kegiatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan motorik anak. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri, misalnya kemampuan untuk mencangkul, memotong rumput atau mencabut tanaman. dll, sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih, misalnya memindahkan benda dari tangan, memegang pot sampai menyusunnya, memegang bunga. Dll. Dengan berkebun anak- anak usia dini dapat belajar sambil bermain dengan teman-temannya dengan begitu semua organ tubuh anak bergerak sesuai fungsinya masing-masing.
Berkebun merupakan salah satu kegiatan yang bermanfaat dan sebagai sumber pengetahuan alam. Dengan mempraktekkan suatu kegiatan, anak kecil lebih mudah tanggap dan menyimpannya didalam memori otak mereka. Tidak hanya itu, setiap kegiatan yang dilakukan anak-anak bisa mereka jadikan pengalaman untuk bekal ilmu mereka, khususnya melalui berkebun para orangtua atau guru berupaya menghadirkan pengalaman belajar baru dengan nuansa yang menyenangkan bagi anak saat melakukan kegiatan berkebun, sehingga tujuan dari kegiatan tersebut dapat terpenuhi, yaitu DIKEBUN ADA ILMU DAN KETERAMPILAN





[i] Suyadi. (2010). Psikologi Belajar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani
[ii] Enco Mulyasa (2012). Manajemen PAUD. Bandung: Rosda
[iii] Sutrisno & Harjono, H.S. (2005). Pengenalan Lingkungan Alam Sekitar sebagai Sumber Belajar Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan Perguruan Tinggi
[iv] Herdianing, M. (2014). Desain Sarana Berkebun dan Bermain Untuk Anak Usia 4-6 Tahun di Taman Kanak-Kanak. ITB: Jurnal Tingkat Sarjana Seni Rupa dan Desain, 1, 1-10.
[v] Enco Mulyasa (2012). Manajemen PAUD. Bandung: Rosda
[vi] Beetlestone, F. (2012). Creative Learning: Strategi Pembelajaran untuk Melesatkan Kreatifitas Siswa. Bandung: Nusa Media.
[vii] Lismadiana. (2013). Peran Perkembangan Motorik Pada Anak Usia Dini. Jurnal Ilmiah Keolahragaan, 2(3), 101-133.

Referensi Internet


Komentar